Aku melakukan suatu perjalanan, bukan tamasya bukan sekedar mencari penghiburan. Tetapi, perjalanan. Seolah petualangan atau semacamnya. Entah sudah berapa lama aku memulai perjalanan ini... sepuluh tahun? Lima? Atau, hampir dua puluh dua tahun?
Perjalanan ini entah butuh waktu berapa lama hingga aku sampai di ujung jalan dan menemukan... mungkin sesuatu yang kucari, yang selama ini kutuju? Tapi aku menikmati perjalanan ini. Aku melihat pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku bertemu orang-orang menarik yang juga melakukan perjalanan. Bahkan ada kalanya kami memutuskan berjalan bersama, karena kami pikir kami menuju arah yang sama ke tempat yang sama, sampai suatu ketika kami sadar harus berpisah jalan.
Suatu hari, saat aku tidak menyangkanya, aku menemukan teman seperjalanan yang tampaknya sesuai. Dia dan aku sama-sama menyukai arah yang kami tuju dan memutuskan untuk berjalan perlahan bersama-sama. Kami setuju bahwa jalan setapak ini akan bermuara di tempat yang memang adalah tujuan akhir kami--rumah. Kami banyak bercakap-cakap sepanjang berjalan, tentang dirinya dan tentang diriku. Asal usul kami. Mimpi dan adu argumen. Harapan dan ketakutan. Disaat sulit kami belajar membelah roti yang kami miliki jadi dua, dan saling melindungi dari hewan buas atau perompak kala beristirahat di malam hari. Tenda yang kami dirikan memang tidak selalu kokoh, tapi cukup untuk melindungi dari dinginnya malam dan tempat melepas lelah sejenak sebelum kembali berjalan.
Ah... ya, sungguh, perjalanan ini membuatku lelah. Sangat, sangat, lelah... Ada kalanya aku ingin lekas tiba di tujuan, aku mulai muak dengan perjalanan ini. Rekan seperjalananku dengan sabar terus menyemangati: kamu pasti bisa, berdua kita pasti bisa.
Aku lelah, ujarku.
Dia menepuk bahuku, aku percaya kamu pasti bisa terus melangkah. Sedikit lagi.
Aku ingin segera tiba di rumah... :(
Dia: Ya, sebentar lagi... Kita pasti segera tiba :)
Kapan?
Segera.
Aku mulai tidak sabar. Aku lelah. AKU LELAH! Kakiku sakit. Lututku seperti terbakar. Matahari tidak lagi bersahabat, malam semakin dingin. Paru-paruku sakit saat meminta udara, dan memandang rekan seperjalananku yang timbul adalah rasa marah. Kenapa kamu tetap bersikap demikian, itu sangat menyebalkan, sangat menyebalkan!
Rekan seperjalananku menatap dengan cara yang membuatku terluka. Aku merasa bersalah... Selama ini dia adalah teman seperjalanan yang paling baik, membantuku di kala susah dan entah sudah berapa banyak tawa yang kami bagi sepanjang perjalanan beberapa waktu belakangan.
Dia: Ayo, sedikit lagi kita sampai... Jangan berhenti di sini.
Aku diam saja. Aku tercabik antara ingin mengikutinya dan berharap lekas tiba di rumah, yang tentu jadi tujuanku... disisi lain aku juga kesal dan ingin melepas waktu sejenak untuk istirahat di bawah kerindangan sebuah pohon di sisi jalan. Tetapi dalam hati aku berpikir, apabila aku berhenti, aku tahu dia akan terus berjalan. Aku akan sendirian. Aku akan berjalan sendirian... dan entah berapa lama sampai aku dapat rekan seperjalanan seperti dia?
Aku mulai bingung.
Dia: Hei, aku akan menjagamu. Ayo.
Rekan seperjalananku tampaknya tidak menyadari betapa lelah dan takutnya diriku. Ia berharap aku masih seantusias dia dalam melakukan perjalanan ini, tanpa memperhitungkan betapa kemudian aku menjadi letih: bahuku semakin berat, langkahku terseret, nafasku terengah dan wajahku tidak bahagia. Aku gampang menangis saat harusnya tidur. Aku muak. Aku letih, letih, letih.
Beberapa langkah kecil yang kupaksakan, membuat kami bertemu traveller lainnya. Semuanya melambai dan tersenyum, semuanya menyandang bangga ransel masing-masing. Langkah mereka tegap dan berirama, berbeda dengan langkahku sekarang.
Halo! Sapa mereka. Semua baik-baik saja?
Rekan seperjalananku tersenyum lebar, Ya, semua baik-baik saja.
Dan mereka tidak tahu... betapa letihnya diriku. Betapa aku ingin duduk, sebentar saja, menutup wajahku dengan keduabelah tangan dingin dan merentangkan kaki. Aku tidak bisa menuntut waktu beristirahat karena aku akan kehilangan rekan seperjalananku yang begitu sempurna dengan caranya sendiri dalam menjagaku sepanjang perjalanan ini...
Rekan seperjalananku menoleh dan melihatku terdiam di pinggir jalan.
Ayo, Yessica. Kita akan segera tiba...
Aku memandangnya dan rekan seperjalananku itu balas memandangku. Waktu seolah berhenti. Kemudian aku mengangguk. Ia berputar dan aku mulai menapakkan kaki mengikutinya. Aku tidak melihat apa-apa di ujung jalan. Matahari mulai terbenam, seharusnya itu hal yang indah... Rekanku mulai bersiul-siul riang, seolah perjalanan ini mengasyikkan baginya. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami tersenyum padanya. Beberapa dari mereka berjalan sendiri, lainnya berkelompok, dan ada juga yang berjalan dengan rekan masing-masing seperti diriku.
Kita akan terus berjalan bersama, kan? :)
Aku menatap ke matanya dan aku melihat keseriusan di sana. Ini rekan seperjalanan yang akan diminta oleh traveller manapun. Aku menggigit bibir dan menekan rasa lelahku.
Ya, sahutku.
Dan kamipun terus berjalan di jalan setapak itu, dua rekan seperjalanan diantara banyak traveller lain...











