Friday, December 25, 2009

Mimpi Tentang... Berjalan.


Aku melakukan suatu perjalanan, bukan tamasya bukan sekedar mencari penghiburan. Tetapi, perjalanan. Seolah petualangan atau semacamnya. Entah sudah berapa lama aku memulai perjalanan ini... sepuluh tahun? Lima? Atau, hampir dua puluh dua tahun?

Perjalanan ini entah butuh waktu berapa lama hingga aku sampai di ujung jalan dan menemukan... mungkin sesuatu yang kucari, yang selama ini kutuju? Tapi aku menikmati perjalanan ini. Aku melihat pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku bertemu orang-orang menarik yang juga melakukan perjalanan. Bahkan ada kalanya kami memutuskan berjalan bersama, karena kami pikir kami menuju arah yang sama ke tempat yang sama, sampai suatu ketika kami sadar harus berpisah jalan.

Suatu hari, saat aku tidak menyangkanya, aku menemukan teman seperjalanan yang tampaknya sesuai. Dia dan aku sama-sama menyukai arah yang kami tuju dan memutuskan untuk berjalan perlahan bersama-sama. Kami setuju bahwa jalan setapak ini akan bermuara di tempat yang memang adalah tujuan akhir kami--rumah. Kami banyak bercakap-cakap sepanjang berjalan, tentang dirinya dan tentang diriku. Asal usul kami. Mimpi dan adu argumen. Harapan dan ketakutan. Disaat sulit kami belajar membelah roti yang kami miliki jadi dua, dan saling melindungi dari hewan buas atau perompak kala beristirahat di malam hari. Tenda yang kami dirikan memang tidak selalu kokoh, tapi cukup untuk melindungi dari dinginnya malam dan tempat melepas lelah sejenak sebelum kembali berjalan.

Ah... ya, sungguh, perjalanan ini membuatku lelah. Sangat, sangat, lelah... Ada kalanya aku ingin lekas tiba di tujuan, aku mulai muak dengan perjalanan ini. Rekan seperjalananku dengan sabar terus menyemangati: kamu pasti bisa, berdua kita pasti bisa.

Aku lelah, ujarku.

Dia menepuk bahuku, aku percaya kamu pasti bisa terus melangkah. Sedikit lagi.

Aku ingin segera tiba di rumah... :(

Dia: Ya, sebentar lagi... Kita pasti segera tiba :)

Kapan?

Segera.


Aku mulai tidak sabar. Aku lelah. AKU LELAH! Kakiku sakit. Lututku seperti terbakar. Matahari tidak lagi bersahabat, malam semakin dingin. Paru-paruku sakit saat meminta udara, dan memandang rekan seperjalananku yang timbul adalah rasa marah. Kenapa kamu tetap bersikap demikian, itu sangat menyebalkan, sangat menyebalkan!

Rekan seperjalananku menatap dengan cara yang membuatku terluka. Aku merasa bersalah... Selama ini dia adalah teman seperjalanan yang paling baik, membantuku di kala susah dan entah sudah berapa banyak tawa yang kami bagi sepanjang perjalanan beberapa waktu belakangan.

Dia: Ayo, sedikit lagi kita sampai... Jangan berhenti di sini.

Aku diam saja. Aku tercabik antara ingin mengikutinya dan berharap lekas tiba di rumah, yang tentu jadi tujuanku... disisi lain aku juga kesal dan ingin melepas waktu sejenak untuk istirahat di bawah kerindangan sebuah pohon di sisi jalan. Tetapi dalam hati aku berpikir, apabila aku berhenti, aku tahu dia akan terus berjalan. Aku akan sendirian. Aku akan berjalan sendirian... dan entah berapa lama sampai aku dapat rekan seperjalanan seperti dia?

Aku mulai bingung.

Dia: Hei, aku akan menjagamu. Ayo.

Rekan seperjalananku tampaknya tidak menyadari betapa lelah dan takutnya diriku. Ia berharap aku masih seantusias dia dalam melakukan perjalanan ini, tanpa memperhitungkan betapa kemudian aku menjadi letih: bahuku semakin berat, langkahku terseret, nafasku terengah dan wajahku tidak bahagia. Aku gampang menangis saat harusnya tidur. Aku muak. Aku letih, letih, letih.

Beberapa langkah kecil yang kupaksakan, membuat kami bertemu traveller lainnya. Semuanya melambai dan tersenyum, semuanya menyandang bangga ransel masing-masing. Langkah mereka tegap dan berirama, berbeda dengan langkahku sekarang.

Halo! Sapa mereka. Semua baik-baik saja?

Rekan seperjalananku tersenyum lebar, Ya, semua baik-baik saja.

Dan mereka tidak tahu... betapa letihnya diriku. Betapa aku ingin duduk, sebentar saja, menutup wajahku dengan keduabelah tangan dingin dan merentangkan kaki. Aku tidak bisa menuntut waktu beristirahat karena aku akan kehilangan rekan seperjalananku yang begitu sempurna dengan caranya sendiri dalam menjagaku sepanjang perjalanan ini...

Rekan seperjalananku menoleh dan melihatku terdiam di pinggir jalan.

Ayo, Yessica. Kita akan segera tiba...

Aku memandangnya dan rekan seperjalananku itu balas memandangku. Waktu seolah berhenti. Kemudian aku mengangguk. Ia berputar dan aku mulai menapakkan kaki mengikutinya. Aku tidak melihat apa-apa di ujung jalan. Matahari mulai terbenam, seharusnya itu hal yang indah... Rekanku mulai bersiul-siul riang, seolah perjalanan ini mengasyikkan baginya. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami tersenyum padanya. Beberapa dari mereka berjalan sendiri, lainnya berkelompok, dan ada juga yang berjalan dengan rekan masing-masing seperti diriku.

Kita akan terus berjalan bersama, kan? :)

Aku menatap ke matanya dan aku melihat keseriusan di sana. Ini rekan seperjalanan yang akan diminta oleh traveller manapun. Aku menggigit bibir dan menekan rasa lelahku.

Ya, sahutku.

Dan kamipun terus berjalan di jalan setapak itu, dua rekan seperjalanan diantara banyak traveller lain...

Saturday, December 19, 2009

jadi kepala, bukan jadi "ekor".


Gue bukanlah pekerja yang baik, itu satu hal yang gue pelajarin selama gue berkecimpung dalam berbagai Komite di universitas. Gue bukanlah pekerja yang baik, apabila gue dibimbing oleh atasan atau mentor yang bukan pemimpin yang baik. Mungkin karena faktor gue merasa "tidak diberdayakan sesuai kapasitas yang ada" atau gue berpikir bahwa "sang atasan lupa betapa gue bisa jadi logam berharga bila diasah dengan tepat"... semuanya itu berakhir pada satu kata: narsistik.

Dalam sejarah hidup gue yang singkat sejauh ini, di bahu dan tangan gue saat ini ter"beban" suatu tanggung jawab moral yang mengharapkan gue menambah wibawa Komite, Organisasi dan sekaligus melindungi serta memberdayakan orang-orang dibawah asuhan gue, suatu masa dimana label "Kepala" ditepukkan di jidat gue beserta embel-embel lain yang menyertai kata "Kepala" yakni "memimpin", "memberdayakan", "melindungi", "mementori". Semuanya itu berkecamuk dalam diri gue, dalam katarsis dan narsistik serta sarkasme gue as a person.

Dan gue baru sadar... Sebagai pemimpin, gue menikmati perasaan tersebut. Perasaan takut yang bercampuk ekspektasi lingkungan dan diri sendiri: ambisi dan penghargaan. Melihat orang-orang yang gue pimpin, dan suatu hari nanti anak-anak baru itu mungkin akan berdiri di posisi gue: gue akan menghargai ambisi mereka.

Disisi lain, gue pun mulai memahami diri gue lebih baik dengan menjadi kepala dan bukan jadi "ekor". Yakni: ada kalanya gue memimpin dengan tangan besi. Itu mungkin ada kalanya membuat gue sendiri tertampar dengan fakta bahwa gue terlalu sensitif: bahwa gue adalah orang yang in charge segalanya. Gue adalah Soehartonya kelompok ini. Gue Bung Karnonya... dan gue nyaris membenci diri gue sendiri untuk itu. Gue menolak menjadi orang lembek, atau orang yang lari dari masalah dalam hal ini, sehingga gue harus menjadi besi. Hanya satu hal yang belum gue lakukan dalam hal menjadi besi ini: membungkam orang-orang yang tidak menjaga mulutnya.... *sigh.


Just kidding though.
Have a good day... :)

Tuesday, December 8, 2009

kesehatan mental.


Why on earth you always a step ahead of me?

But in the end, I will have it all, bitch.

Saturday, November 28, 2009

stres.


Akhir-akhir ini kelabu. Kalau nggak hujan, ya mendung... Hari-hari yang panas membara kayaknya udah selesai seiring dengan makin mendekatnya Desember (dan itu juga berarti semakin mendekatnya UAS!) -___-..

Beberapa hari ini gue mimpi aneh: ngeliat gurita raksasa, naik motor keliling Pulau Jawa, sampai tidur dikelonin Christian Bale... Mungkin mimpi itu berhubungan dengan mood kali ya? Baru minggu lalu gue sadar kalau nilai UTS gue berantakan dan nggak ada yang nilainya lebih dari 60.. Ditambah kenyataan kalau target jadi Sarjana Hukum dalam waktu 3,5 tahun ternyata harus molor hingga (bisa-bisa) 4,5 tahun.... I THINK I'M GONNA DIE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! What should I tell Mommy?????

So.... Sorry for the fucking lack of updates... there's a hell of things to do lately @@..
Saat ini gue lagi megang satu acara yang diadakan organisasi kampus gue (UPM - Unit Penelitian Mahasiswa), yakni mengenai penelitian forensik yang dinamakan DE.A.D "Detective At the Day: Behind The Death".... Dan jadi ketua acara itu susah-susah gampang, kebanyakan susahnya. Walau demikian gue bersyukur bekerja sama dengan pihak-pihak yang berkinerja bagus, walaupun masih ada beberapa yang belum maksimal.. Acara ini akan diadakan di kampus gue, rencananya somewhere di Maret 2010...^^ DE.A.D jelas-jelas menguras tenaga dan pikiran gue. Semua proposal, baik untuk pihak kampus, sponsor dan calon-calon pembicara harus masuk ke gue dulu sebelum bisa disebar. Belum lagi ditambah tugas-tugas kuliah yang numpuk dan menjerit-jerit minta diselesaikan.... Sebagai tambahan, rutinitas kampus dengan segala kebrengsekan di dalamnya, bikin gue susah ber-quality time dengan teman-teman. Sekalinya mau ketemu, they're away with familes or boyfriends!! -__-... Semuanya serba susah. Mau ngobrol pun sulit. Rutinitas masing-masing bikin jauh..

Bokap : "Is Wei Ta coming here?"
gue : "Nope. He is busy with work and assignments."

It was yesterday.


Today:
Bokap : "Is Wei Ta come today?"
gue : "Uh... I don't know. With him, its all depends.."


Yep. I need some fresh air. Some good books. And maybe more time to do multitasks.
Please excuse me for the pathetic update. I'll write better the next time I update...

Have a great weekend everyone!! :)

Saturday, November 14, 2009

-Arson "words written in the blood"-

Here it is a beating heart inside the same blood covered box
Here is every word, every bleeding knife, from your deceiving hands
Here is every word written in blood
Here it is a beating heart
Forgive me for thinking you were real,
Forgive me for thinking this was real...
You fuckin' liar I hope your life is a living hell.
I hope that everytime you breath you suffer

Kill yourself
Here is every word written in blood
I hope your life is a living hell

Wednesday, November 4, 2009

westlife.



Day after day time pass away
And I just cant get you off my mind
Nobody knows I hide it inside
I keep on searching but I can't find

The courage to show, to letting you know
I've never felt so much in love before
And once again I'm thinking about
taking the easy way out

But if I let you go I will never know
What my life would be holding you close to me
Will I ever see you smiling back at me?
How will I know if I let you go?

Night after night I hear my self say
Why cant this feeling just fade away?
There's no one like you,
you speak to my heart
Its such a shame we're worlds apart

I'm too shy to ask, I'm too proud to lose
But sooner or later I've got to choose
And once again I'm thinking about
taking the easy way out...

But if i let u go I will never know
What my life would be holding you close to me
Will I ever see you smiling back at me?
How will I know if I let you go?

Sunday, November 1, 2009

land it safe, fellas.


Pernah ga sih... Kita sudah mempersiapkan segala sesuatu, memikirkan semua kemungkinan terburuk, kemudian menjaga bathin kalau2 hal tersebut beneran terjadi.... tapi kemudian, di momen saat hal yang terburuk itu kejadian, ternyata kita malah nggak siap... Kayaknya ini cerita lama, dimana gue ketemu teman-teman yang sudah sejak lamaaaa banget mempersiapkan perasaan/batin mereka saat akan menghadapi "kemungkinan terburuk", dan seperti yang gue bilang: saat akhirnya yang terburuk itu bener2 kejadian, mereka malah nggak siap.

Kayaknya ada yang salah disini. Memang, yang namanya perasaan itu kayak laut, dalemnya ga bisa diukur, cuma bisa di kira-kira. Kita pikir perasaan kita bakal sanggup ngatasin sesuatu yang buruk itu tapi pada kenyataannya ga bisa. Lantas, kita jadi kecewa sama diri sendiri dan timbul penyesalan. Heartache.

"Gue udah sejak lama tau hari itu akan datang, tapi saat hari itu tiba... ternyata gue ga siap." Seberapa sering gue mendengar kalimat itu keluar dari teman-teman gue, seberapa sering gue ngerasa kalau "masa depan" adalah sesuatu yang ga pasti, dan "perasaan" ibarat main petak umpet, kita cuma bisa mengira-ira dimana, dan bagaimana, kita bisa menemukan kebahagiaan tetapi yang ditemukan adalah kesedihan.


Salah satu motto hidup gue adalah "hope for the best, prepare for the worst", dan itulah yang selalu gue coba aplikasian dalam keseharian gue. Kita ga boleh berhenti berharap, bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya, tapi di satu sisi kita juga harus mempersiapkan apabila yang terjadi diluar rencana/kehendak kita. Kalau ternyata apa yang telah kita persiapkan meleset dari perkiraan kita, bahwa ternyata kita ga siap... mungkin itu karena kita terlalu menganggap enteng esensi dari sebuah perasaan itu...

Tapi di akhirannya, gue percaya, "time always heal the pain".

Be safe, fellas. :)

Wednesday, October 28, 2009

reality bites: the wake up call.


Someone told me: "your blog are getting depressed each day!" XD

Honestly.... I'm too busy recently, it really squeeze the ghost out of me...-___-.. And too tired also, that I encountered a bad argument with my brother and he said a thing that really hurts me.. But anyway.... Emang akhir-akhir ini gue sibuk banget, sampe kadang ga sempet online cukup lama selain buat update status facebook doang (amat sangat ga penting)... Selalu ada aja yang harus dikerjain, seperti tugas-tugas dari dosen hukum yang hobi banget kasih tugas panjang-panjang, berhubung fakultas hukum erat kaitannya dengan kata "analisis" ~__~.

Seminggu belakangan ini gue udah berpikir baik-baik: i have to sober things up. Which mean, gue harus mikir dan mulai menatap "masa depan" gue, seperti yang tiap hari nyokap teriakin di telinga gue... ughh. Well... ada benernya juga apa yang dikatakan nyokap selama ini.. Walaupun gue bukan tipe anak yang ladies night dan wikend pergi clubbing, atau yang tiap minggu pasti ngetem di Mall... tapi gue anak yang males. Lebih suka molor, atau bengong di rumah. I have to change that... Entah kenapa, gue ngerasa waktu gue udah nggak banyak lagi. Januari tahun depan gue udah umur 22. Gue belum punya tujuan hidup yang bener-bener "REAL", selain jadi pramugari dan keliling dunia, atau kabur ke Inggris dan merit sama Pangeran William, atau seengganya tewas dengan sukses di pelukan Christian Bale. Mungkin suatu hari nanti gue akan bangun dan sadar, betapa banyak waktu yang udah gue sia-siain, dan saat itu gue udah jadi nenek tua berkarat.

Orang tua gue selalu bilang: "Jalan lu masih panjang, jangan puas dengan apa yang ada sekarang." Well... I have my own weaknesses. Something I have to defeat... its like a war within myself. huhuhu. Gue memulainya dengan memikirkan apa yang terbaik buat diri gue: belajar untuk kerja, terus lepas semua atribut yang mencermin ke"tidak jelas"an gue... hiks.

Coba kalau kita bisa milih kita mau punya hidup yang kayak gimana sejak lahir, pasti enak banget. Lahir dikeluarga yang aristokrat, bisa sekolah diluar negeri tanpa pusing biaya, bisa bebas ekspresiin diri tanpa harus di caci maki begitu pulang ke rumah, terus begitu udah gede langsung dapet suami tajir, baik hati dan setia serta tampan bagaikan :


christian bale-ku sayang.... ahh..
*heart melts*


Kalau ngomong "realita" berarti dalam kamus idup gue juga harus ngomongin "Hal-hal yang ga bisa gue dapet dalam idup ini" (gila, ngenes bener ngetiknya!) hahahahaha.. Dan salah satu hal yang nggak gue dapet (dengan mudah) dalam idup ini adalah: memuaskan nafsu birahi gue akan dunia fotografi. Udah beberapa waktu belakangan ini, gue juga jadi balik ke penyakit lama: ngeliatin kamera. Mungkin gue udah terjangkit kamerameningitis kali ya, penyakit jenis baru yang menimpa orang-orang penyakitan yang selalu horny liat kamera SLR. Berat rasanya tiap kali inget harus nabung dua tahun full dulu buat beli kamera SLR, itupun nabung uang jajan, berhubung belum kerja... hiks.

Biasanya sih gue ga suka jenis fotografi yang tipikal "beauty photo" karena menurut gue ga ada seninya. Tapi begitu liat foto dibawah ini, gue langsung lumer :


Song Hye Kyo.
my korean idol. she's so perfecto...

(and i want that nose!!!)



Sementara dibelahan dunia lainnya..........

your blogger...


Sumpah deh....... I hate the reality.

Monday, October 19, 2009

Aneh rasanya. Dulu kita berteman cukup erat. Terpisah lima tahun dan menjalani hidup masing-masing, bertemu banyak orang dan mungkin jarak yang memecah kita. Gue baru sadar.... sedih rasanya mengetahui perasaan kita tak lagi sama. Mungkin gue yang berlebihan. Tapi please... alasan "karena kita punya pasangan masing-masing dan kehidupan berbeda" bukan berarti kita tidak bisa saling bertukar cerita.

Kalau sudah begitu, maka kita bukan lagi "teman".

Wednesday, October 14, 2009

sesuatu tentang "dia".

Obsesi.


OBSESI..



O-B-S-E-S-I.


Menurut kamus besar bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan "obsesi" itu adalah gangguan pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan. Sejak bulan pertama tahun ini, pikiran gue ga bisa lepas dari seseorang yang selalu gue cari, gue salahin, dan gue rendah-rendahkan... Entah kenapa, saat memikirkan dia terasa nyaman, karena dia adalah suatu bentuk segala rasa tidak suka gue akan diri "seseorang". Entah bagaimana caranya, akhirnya gue menemukan segala bentuk ketidaksukaan gue; segala rasa dengki dan iri hati gue pada diri... dia.